Harmoni nan Indah

Shalat … kata itu adalah kata yang sering sekali kita dengar di keseharian kita “udah shalat belum De?” atau “ mau shalat dimana De?” atau “lagi shalat ya De, sorry ganggu” dan “De, jangan lupa shalat yah, sudah adzan sayang” asik… iya sungguh ditelinga kita kata ini sangat menyentuh relung jiwa kita, ketika telinga kita tersentuh kata itu rasanya bak air zam zam yang bening mengalir, menyusup ke tulang belulang dan mengingatkan kita bahwa shalat adalah saat kita bertemu dengan pemilik nafas kita, saat melepas kerinduan kita dengan pencipta kita dan saat yang paling kita tunggu karena disana kta berhadapan dengan pemilik segala milik dan tempat kita meminta, dengan menemuiNYA rasanya indah …. indah sekali.

Shalat bukan hanya sekedar kata, bukan pula sekedar gerakan berdiri, dan bersujud tapi shalat adalah harmoni nan indah, sejatinya, shalat adalah ibadah paripurna, memadukan pikiran, gerakan nan indah, dan rasa (sensibilitas). Ketiganya terpadu secara cantik dan selaras. Kontemplasi dan riyadhah yang terintegrasi sempurna, saling melengkapi dari dimensi perilaku dan lisan (al bayan), respons motorik, rasionalitas (menempatkan diri secara proporsional), dan kepekaan terhadap jati diri, kepekaan dan kehalusan untuk merasakan cinta dan kasih sayang ALLAH…

Dan segala yang membuncah bernama shalat ini bisa kita rasakan dari mulai berwudhu, ketika bermukena, menapak diatas sajadah, berdiri tapi menundukan kepala karena kita tahu dengan Dzat yang maha tinggi kita berhadapan, kemudian ada getar halus, ada airmata yang seperti hendak berlinang mengaliri tulang pipi kita dan ketika bibir mungil kita mulai berucap ALLAH Akbar [ALLAH maha besar] itulah kalimat pertama yang kita ucapkan kepada Dzat yang denganNYA kita sedang berhadapan melepas segala cinta dan kerinduan, memohon ampunan dan mengadukan setiap tapak yang telah kita buat …

ah indahnya shalat

Dan saya ingat ketika saya memasuki masa remaja kemudian menanyakan kepada Eyang “Eyang apa hasil dari shalat?” dengan ketenangan yang menjadi ciri khas Eyang, dengan syurban yang tak pernah lepas dari tengkuknya dan dengan senyum simpulnya nan menawan Eyang mengatakan bahwa hasil dari shalat adalah jiwa yang tenang, dan semakin dewasa saya semakin mengerti makna shalat sebagai pengelolaan nafs menjadi motivasi yang bersifat muthma’innah. Jiwa muthma’innah atau jiwa yang tenang inilah yang akan memiliki karakteristik malakut untuk mengekspresikan nilai-nilai kebenaran absolut. Hai jiwa yang tenang (nafs yang muthmainah).

Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang bening dalam ridha-Nya

(QS Al Fajr [89]: 27-28)

Mereka yang memiliki jiwa muthma’innah akan mampu mengaplikasikan nilai-nilai shalat dalam kesehariannya. Sebuah nilai yang didominasi kesabaran paripurna. Dan yang kita lihat kemudian adalah jiwa shalat adalah jiwa yang penuh syukur, pemaaf, lemah lembut, penyayang, tawakal, merasa cukup dengan yang ada, pandai menjaga kesucian diri, yakin bahwa pertolongan ALLAH pasti datang karena ia selalu berdialog dengan ALLAH.

Mulai sekarang kita jadikan shalat sebagi harmoni nan indah yah, bukan hanya menggugurkan kewajiban, bukan hanya berdiri komat kamit tanpa arti kemudian lari setelah salam tapi jadikan shalat tempat kita berdialog dengan yang maha memiliki Cinta … ketika harmoni itu sudah kita dendangkan maka shalat adalah saat yang kita nantikan disela kesibukan bumi.

ah indahnya shalat, ketika cinta terasa berlabuh, ketika sabar dan shalat adalah penolong satu satunya, bayangkan jika tidak ada ibadah bernama shalat, bagaimana cara kita ketemu ALLAH………

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.